Rabu, 03 Maret 2010

Final Paripurna DPR, Opsi C Menang

Final Paripurna DPR, Opsi C Menang


Final Paripurna DPR, Opsi C Menang

Posted: 03 Mar 2010 08:50 AM PST

Jakarta, (tvOne)

Seperti halnya voting pertama, keputusan apakah opsi A  dan opsi C juga dilakukan secara terbuka. Para anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) berdiri, untuk menyatakan persetujuan atas salah satu opsi.

Hasilnya untuk Partai Demokrat, sebanyak 148 anggota berdiri menyatakan persetujuan pada opsi A. Sementara, Fraksi Partai Golkar, sebanyak 104 anggota memilih opsi C. Sementara dua anggota fraksi Golkar tak ada di tempat, dengan alasan sakit. "Masih kalah dengan Demokrat," kata Ketua DPR, Marzuki Alie yang diikuti teriakan 'Huu...'.

Untuk Fraksi PDI Perjuangan, sebanyak 90 anggota memilik opsi C, empat lainnya tidak ada di tempat. Untuk PKS, 56 anggota memilih C. Satu anggota lainnya belum dilantik, sehingga tak hadir di paripurna dan tak punya hak pilih. Fraksi PAN, berbeda dengan hasil voting sebelumnya yang mutlak 40 dalam memilih alternatif. Namun hanya sebanyak 39 anggota memilih opsi A. "Satu orang hilang," kata Marzuki Alie.

Yang paling menarik adalah hasil voting PPP. Anggota fraksi PPP berbalik. Sebanyak 33 dari 38 anggota, tak ada yang memilih opsi A. 32 anggota memilih opsi C. Satu anggota lainnya hilang tak tahu kemana. Demikian pula PKB. Ada 25 yang memilih opsi A, sementara Lily Wahid tetap pada pendiriannya. Dia memilih opsi C. Sikap adik Gus Dur itu mendapat apresiasi. "Hidup Bu Lily," kata anggota dewan lain.

Partai Gerindra, tak ada satupun yang memilih opsi A. Sementara sebanyak 25 anggota fraksi Gerindra memilih opsi C. Satu absen. "Sampai sekarang tidak ada yang memecahkan rekor Partai Demokrat," kata Marzuki Alie, diikuti 'Huuu...". Sementara 17 dari 17 anggota Fraksi Hanura memilih opsi C. "100 persen." Hasil akhir, opsi A sebanyak 212, opsi C dipilih 325 anggota. (VIVAnews)

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Presiden Minta Kapolri Jaga Ketertiban Umum

Posted: 03 Mar 2010 05:34 AM PST

Jakarta, (tvOne)

Juru bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha mengatakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta aparat kepolisian untuk terus menjaga ketertiban umum dan penegakan hukum yang selama ini dinilai cukup baik.

Julian Pasha yang dihubungi wartawan di Jakarta, Rabu (3/3) malam mengatakan, hal tersebut disampaikan saat Presiden SBY memanggil Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri ke Wisma Negara, Rabu (3/3) sore dalam sebuah pertemuan tertutup. "Ada rapat internal, hanya koordinasi saja Menko dan Seskab. Kapolri sendiri hadir intinya bicara tentang law and order, lebih tertib hukum dalam hal tertib sosial kita," kata Julian.

Namun demikian, ia tidak menjelaskan lebih jauh materi pertemuan tersebut. Sementara itu Staf Khusus Presiden bidang Komunikasi dan Media, Heru Lelono mengatakan, meski ia tidak mengikuti pertemuan itu. Namun dari informasi yang diketahuinya, ada beberapa menteri yang hadir antara lain Menakertrans Muhaimin Iskandar dan Menteri Agama Suryadharma Ali. "Ya ada Pak Muhaimin, menteri koalisi lah, ada pak menteri agama, yang saya tahu itu," tuturnya.

Heru mengatakan, tidak menutup kemungkinan salah satu agenda yang dibicarakan adalah penyelesaian kasus Bank Century karena memang di beberapa kesempatan kepala negara juga telah menyampaikan hal tersebut, termasuk dalam pidato pengantar rapat kabinet beberapa waktu yang lalu. "Itu masalah ekonomi, tidak masalah, dalam pembukaan (rapat kabinet-red) juga singgung itu juga, masa (presiden-red) tidak mengikuti (isu tersebut-red)," kata Heru.

Pertemuan yang berlangsung di Wisma Negara dilakukan tertutup dari liputan media massa. Wartawan pun diminta untuk tidak berada di lokasi tersebut. (Ant)

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Golkar & PDIP Duet Bareng Nyayikan Garuda Di Dadaku

Posted: 03 Mar 2010 05:25 AM PST

Jakarta, (tvOne)

Rapat paripurna Dewan belum lagi dimulai, namun ruangan sudah diramaikan oleh para politisi Golkar dan PDIP. Lebih dari 30 politisi dua partai berorasi, dan bernyanyi bersama dengan tangan teracung. Mereka menyanyikan lagu 'Halo-halo Bandung, dan lagu-lagu yang sering dinyanyikan saat demonstrasi.

Tak lupa, mereka menyerukan 'Opsi C' yang menjadi opsi pilihan mereka "Opsi C di dadaku, opsi C pilihanku. Kuyakin hari ini pasti menang," nyanyi mereka, dengan nada lagu 'Garuda di Dadaku' ciptaan band Rock Netral, sambil mengacungkan tangan.

Tampak berada diantara mereka, tiga artis Tantowi Yahya, Miing 'Bagito, dan Rieke Diah Pitaloka'. "Revolusi..revolusi sampai mati. Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan," seru mereka bersama-sama dengan alunan nada.

Lobi di hari penentuan kasus Century di DPR berjalan sangat alot. Namun, rapat yang dijadwalkan kembali pukul 15.00 kembali molor. Alotnya lobi, dikarenakan Demokrat menawarkan opsi yang tidak direkomendasikan pansus. Partai Demokrat ini mengusulkan opsi ketiga, yang merupakan gabungan dari opsi A dan C yang ditawarkan ke Pansus.

Sampai saat ini, tak diketahui skrenario apa yang akan berlangsung dalam rapat malam ini. (VIVAnews)

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Marzuki Alie: Kebenaran Bukan Diputus dengan Voting

Posted: 03 Mar 2010 05:17 AM PST

Jakarta, (tvOne)

Ketua DPR Marzuki Alie menyatakan, kebenaran atas kasus Bank Century tidak bisa diputus dengan voting. Sehingga muncul pendapat, agar Opsi A dan Opsi C diterima secara bersama-sama. "Ini bukan opsi baru, karena baik Opsi A dan Opsi C tidak ada kebenaran mutlak. Sehingga pandangan atas kedua Opsi itu diterima saja," katanya di Jakarta, Rabu (3/3) terkait dengan alotnya lobi di Rapat Pimpinan DPR untuk memutuskan pengambilan kesimpulan atas kasus Bank Century,.

Ia juga mencontohkan, keputusan hukum saja ada istilah "dissenting opinion" atau keputusan yang berbeda tetapi tetap dihargai sebagai sebuah keputusan. Ketika ditanya apakah hal itu membuat pengambilan keputusan akan lebih rumit, Marzuki mengatakan, hal itu tidaklah rumit. Ia justru menuding ada pihak-pihak yang memaksakan kehendak untuk memilih satu diantara dua opsi itu.

Sementara itu, pakar hukum Adnan Buyung Nasution mengatakan, sangatlah tidak mungkin Opsi A dan Opsi C menjadi keputusan DPR. Karena hal itu tidak sesuai dengan rekomendasi Panitia Angket Bank Century, yang meminta satu pilihan dari dua opsi itu. "Kita harus rasional dan berfikir logis dalam mengambil keputusan. Kalau Opsi A dan Opsi C bersama-sam menjadi keputusan DPR, maka ini akan menjatuhkan harkat dan martabat bangsa," katanya.

Ia mencontohkan, dalam sidang Konstituante ada dua opsi yang dipilih yaitu menjadi negara berdasarkan agama Islam atau berdasarkan Pancasila dan tidak bisa dua-duanya menjadi pilihan. "Cobalah DPR belajar dari sejarah," katanya. (Ant)

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar