Kamis, 28 Oktober 2010

Gunung Merapi Muntahkan Lava Pijar

Gunung Merapi Muntahkan Lava Pijar


Gunung Merapi Muntahkan Lava Pijar

Posted: 28 Oct 2010 07:40 AM PDT

Gunung Merapi

Yogyakarta, (tvOne).

Gunung Merapi memuntahkan Lava pijar yang muncul hampir bersamaan dengan keluarnya awan panas pada pukul 19.54 WIB.

"Pada pukul 19.54 WIB, muncul awan panas yang cukup besar mengarah ke selatan, dan hampir bersamaan muncul pula lava pijar," kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Surono di Yogyakarta, Kamis, (28/10).

Menurut Surono, munculnya lava pijar tersebut sudah menunjukkan erupsi khas Merapi dan diharapkan aktivitas gunung api tersebut mulai menurun.

Namun demikian, Surono mengatakan untuk saat ini status Gunung Merapi masih tetap dinyatakan "awas" dan masyarakat diminta untuk tetap berada di jarak aman yaitu dalam radius 10 kilometer (km) dari puncak.

Pada pukul 16.13 WIB, Merapi juga telah memuntahkan awan panas dengan volume kecil mengarah ke Kali Gendol dan berjarak luncur sekitar 3,5 km. (Ant)

at

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Beyond Hiroshima - The Non-Reporting of Falluja's Cancer Catastrophe.

Tiga Jenazah Korban Pesawat Jatuh Telah Teridentifikasi

Posted: 28 Oct 2010 07:23 AM PDT

Jakarta, (tvOne).

Tiga jenazah korban jatuhnya pesawat Polri sudah teridentifikasi yaitu AKP Irwan, Ipda Amri dan Briptu Saiful.

"Sementara itu, dua jenazah korban dari awak pesawat yang jatuh tersebut diupayakan untuk identifikasi, tetapi lima jenazah seluruhnya telah dibawa ke Rumah Sakit Nabire," kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat (Kadiv Humas) Polri Irjen Pol Iskandar Hasan di Jakarta, Kamis, (28/10).

Jenazah seluruh korban pesawat milik Mabes Polri tersebut rencananya pada Jumat (29/10) akan dibawa ke Jakarta dengan menggunakan pesawat komersial, ujarnya. "Lokasi jatuhnya pesawat tersebut di rawa-rawa, sehingga menyulitkan evakuasi dan pengumpulan barang-barang, tapi ditemukan tiga dari empat senjata revolver crew," kata Iskandar menjelaskan.

Kadiv Humas mengatakan saat ini lokasi jatuhnya pesawat telah diamankan oleh Polres Nabire, untuk mencapai tempat kejadian dengan menggunakan speed boat. Pesawat milik Mabes Polri tersebut diperkirakan di kawasan Wami, Distrik Wanggar, Papua.

Pesawat milik Polri jenis Skytruck dengan nomor lambung 420 tersebut terdiri dari lima orang awak yakni AKP Irwan sebagai pilot, Iptu Bayu sebagai co pilot, dan crew Ipda Mohamad Amri, Briptu Hadirianto, dan Briptu Aipul Bahri.

"Saat ini baru tiga jenazah yang ditemukan, sisanya masih dalam pencarian dan kondisi tubuh korban ditemukan dalam keadaan hancur," kata Iskandar.

Kadiv Humas mengatakan pesawat tersebut terbang dari Nabire setelah membawa bantuan ke Wasior, dalam penerbangan akan kembali ke Jakarta via Ambon dan Makassar.

"Setelah isi BBM di Nabire, pesawat Skytruck akan menuju Ambon, diperkirakan jatuh di daerah Wami, dimana sebelumnya pada pukul 15.55 WIT take off, selanjutnya pada pukul 16.30 WIT kehilangan kontak dan belum tiba di Ambon," kata Iskandar.

Masyarakat pada pukul 23.30 WIT, menginformasikan ada pesawat jatuh dan selanjutnya Polres setempat menuju tempat kejadian dan menemukan tiga jenazah dalam kondisi terpisah-pisah dan pesawat hancur, kemudian dievakuasi ke rumah sakit Nabire, katanya. "Jatuhnya pesawat milik Mabes Polri tersebut diperkirakan karena cuaca buruk," kata Iskandar menjelaskan. (Ant)

at

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Beyond Hiroshima - The Non-Reporting of Falluja's Cancer Catastrophe.

Posko Pengungsi Merapi Butuhkan Genset

Posted: 28 Oct 2010 07:05 AM PDT

Yogyakarta, (tvOne).

Posko pengungsi korban letusan Gunung Merapi Hargobinangun, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, masih membutuhkan bantuan genset untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu listrik di kawasan ini padam.

"Ada empat tempat di Hargobinangun yang digunakan untuk menampung pengungsi, yaitu balai desa, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, barak TNI, dan penampungan pengungsi yang menempati rumah salah satu warga. Masing-masing penampungan pengungsi membutuhkan satu genset," kata Kepala Desa Hargobinangun Bejo Wiryanto di Sleman, Kamis, (28/10).

Bejo mengatakan posko pengungsian Hargobinangun saat ini hanya memiliki tiga buah genset sehingga masih kekurangan dua genset lagi untuk menerangi kawasan ini.

"Genset tersebut dibutuhkan jika sewaktu-waktu listrik padam. Jika listrik padam tentunya akan terjadi kekacauan dan kepanikan di kalangan para pengungsi seperti yang sempat terjadi kemarin malam," katanya.

Selain itu, kata dia, pihaknya masih membutuhkan pembalut wanita, popok bayi, dan minyak tanah untuk memasak makanan bagi kalangan pengungsi di tempat pengungsian.

Salah seorang petugas kesehatan di posko pengungsian Hargobinangun dokter Ryan mengatakan banyak pengungsi yang mengeluh terkena gangguan pernapasan seperti sesak napas dan batuk karena mengisap debu vulkanik Gunung Merapi.

"Selain karena menghisap debu vulkanik, gangguan pernapasan dapat terjadi karena sirkulasi udara yang kurang lancar di penampungan pengungsi," katanya. Namun, kata dia, gangguan pernapasan yang dialami para pengungsi tersebut masih dalam kategori ringan sehingga tidak perlu dirujuk ke rumah sakit.

"Persediaan obat di posko kesehatan Hargobinangun juga masih mencukupi. Kalangan pengungsi juga banyak yang mengalami hipertensi karena stres," katanya. Posko pengungsian Hargobinangun menampung 4.538 pengungsi yang berasal dari lima dusun di sekitar lereng Gunung Merapi. (Ant)

at

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Beyond Hiroshima - The Non-Reporting of Falluja's Cancer Catastrophe.

Siaga Bencana, Warga Ikuti Latihan Tanggap Bencana

Posted: 28 Oct 2010 06:55 AM PDT

Gunung Kidul, (tvOne).

Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengadakan pelatihan tanggap bencana untuk menyiapkan kesiagaan masyarakat ketika terjadi bencana mengingat kabupaten ini merupakan daerah rawan bencana.

"Pelatihan tanggap bencana ini lebih menekankan pada upaya kesiagaan masyarakat apabila terjadi bencana atau kesiapan ketika terjadi bencana agar tidak terjadi korban jiwa," kata Kepala Bidang Penanggulangan Bencana, Kantor Kesatuan Bangsa, Politik, Perlindungan Masyarakat dan Penanggulangan Bencana (Kesbangpolinmas dan PB) Gunung Kidul, Sumaryadi,Kamis, (28/10).

Di sela-sela kegiatan pelatihan di Kawasan Hutan Pendidikan Wanagama Playen, Wonosari, ia mengatakan pelatihan tanggap bencana tersebut merupakan langkah antisipasi yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul untuk meminimalisasi jatuhnya korban dari warga khususnya kaum difabel.

Dia mengatakan peserta pelatihan merupakan petugas siaga bencana yang merupakan ujung tombak penanggulangan bencana dari seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Gunung Kidul dan organisasi kemasyarakatan yang fokus pada penanggulangan bencana termasuk pengurus organisasi difabel.

"Peserta pelatihan ditujukan untuk kepala seksi sosial di 18 kecamatan di seluruh Gunung Kidul dan personel atau relawan dari Taruna Siaga bencana, Tim SAR dan kelompok kaum difabel dengan harapan mereka dapat menjadi pelopor penanggulangan bencana di daerahnya atau dikomunitasnya," katanya.

Pelatihan tanggap bencana tersebut dilakukan atas kerja sama Pemkab Gunung Kidul dengan lembaga sosial dari Negara Jerman, Arbeiter-Samariter-Bund (ASB), katanya.

Project Officer ASB untuk Kabupaten Gunung Kidul, Praditya, mengatakan pelatihan tersebut merupakan rangkaian program kegiatan lembaga ini yang sudah dilaksanakan sejak tiga tahun yang lalu.

Dia mengatakan pihaknya melakukan pendampingan dan pelatihan kepada siswa-siswi di sekolah dasar serta memberikan kemudahan akses infrastuktur bagi kelompok difabel apabila terjadi bencana. (Ant)

at

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Beyond Hiroshima - The Non-Reporting of Falluja's Cancer Catastrophe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar