Sabtu, 31 Oktober 2009

Kompagg Minta Presiden Bentuk Tim Independen

Kompagg Minta Presiden Bentuk Tim Independen


Kompagg Minta Presiden Bentuk Tim Independen

Posted: 30 Oct 2009 02:43 PM PDT

Jakarta, (tvOne)

Ketua Umum Koalisi Masyarakat Penggerak Good Governance (Kompagg) TM Mangunsong mendesak Presiden SBY untuk turun tangan menyikapi makin carut marutnya masalah perseteruan KPK versus Polri.

Secara konkrit Mangunsong menyarankan agar Presiden membntuk tim independen yang berisikan ahli hukum pidana, hukum tata negara dan hukum administrasi negara. "tugas tim ini adalah melakukan kajian dan analisa hukum atas apa yang disangkakan terhadap dua wakil ketua KPK sesuai dengan alat bukti yang ada,"kata Mangunsong.

Mangunsong yang juga praktisi hukum ini, hasil kajian itu selanjutnya menjadi rekomendasi yang akan diserahkan kepada Presiden."Jadi presiden dapat mengambil langkah yang tepat, untuk menyelesaikan masalah itu agar tidak terjadi polemik yang berkesudahan,"ujarnya.

Menjawab pertanyaan, Mangunsong menilai hal itu tidak bisa diartikan sebagai intervensi presiden dalam kasus hukum."Ini,kan kapasitas presiden sebagai kepala negara untuk menertibkan institusi penegak hukum agar tidak kehilangan wibawa,"katanya.

Malah Mangunsong menilai jika langkah ini tidak dilakukan maka masyarakat akan melihat Preriden membiarkan masalah itu berkembang tanpa ujung pangkal."Dan Kompagg berani menjamin jika situasi ini terjadi, maka kelompok konglomerat hitam dan koruptor akan ikut memainkan peran mengadu domba sesama institusi penegak hukum,"katanya.

This content has passed through fivefilters.org.

LSM Antikorupsi Kritik Pemberantasan Korupsi Melalui Teater

Posted: 30 Oct 2009 02:43 PM PDT

Semarang, (tvOne)

Sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) antikorupsi di Kota Semarang, Jumat (30/10) malam, mengkritik pemberantasan korupsi yang ada di Indonesia melalui pementasan teater dengan judul "Ladang Perminus" di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang.

"Ladang Perminus" merupakan teater yang diadaptasi dari sebuah novel karya Ramadhan KH. pada tahun 1974 dengan judul yang sama.

Sekretaris Komite Pemberantasan dan Penyelidikan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KP2KKN) Jawa Tengah, Eko Haryanto sebagai penyelenggara pementasan teater tersebut mengatakan di dalam teater ini ada tiga isu yang diangkat yaitu isu antikorupsi, isu lingkungan hidup, dan isu hak asasi manusia (HAM).

"Dalam konteks kekinian, pementasan teater ini masih sangat relevan karena saya melihat pemberantasan korupsi pada tahun 1970-an sampai saat ini tidak pernah beranjak sama sekali dan hal ini sebagai bahaya laten," katanya.

Menurut Eko, kedepannya ada indikasi kalau korupsi yang selama ini digembar-gemborkan sebagai kejahatan yang luar biasa, saat ini menjadi kejahatan yang tidak luar biasa lagi atau biasa. "Salah satu indikasi yang terlihat adalah penahanan dua pimpinan non-aktif KPK, Bibit Samad Riyanto dan Chandra M.Hamzah oleh pihak kepolisian," ujarnya.

Disamping itu, lanjut dia, pemberantasan korupsi di Indonesia diperkirakan akan semakin suram. "Oleh karena itu, perlu ada langkah-langkah yang luar biasa dalam pemberantasan korupsi. Salah satunya adalah dengan cara pementasan teater `Ladang Perminus`," katanya.

Pentas teater "Ladang Perminus" sebelumnya juga diselenggarakan di Kota Bandung dan Jakarta dengan Wawan Sofwan. "Ladang Perminus" mengisahkan seorang tokoh bernama Hidayat, bekas pejuang angkatan 45 yang bekerja sebagai manajer di perusahan minyak nusantara (Perminus).

Hidayat digambarkan sebagai sosok yang cerdas, jujur, idealis, dan setia pada hati nurani. Kemudian muncul penyelidikan skandal korupsi di kantornya. Hidayat dan kawan-kawan yang menjalani karir dengan mulus telah menjadi korban fitnah sehingga harus dipecat dari kantor itu.

Sumber segala masalah yang ada di kantor itu adalah atasannya yang bernama Kahar. Meskipun akhirnya Hidayat tidak terbukti bersalah namun ia merasa kecewa karena seseorang yang berbuat licik yakni Kahar yang meninggal dunia dimakamkan di sebuah Taman Makam Pahlawan.

Sebelum pementasan teater "Ladang Perminus" diselenggarakan, pada kesempatan yang sama digelar, sebuah diskusi dengan tema "Membedah Anatomi Korupsi di Sektor Migas".

Pembicara dalam diskusi tersebut adalah Yudi Purnomo Harahap (perwakilan KPK), Anggita Tampubolon (perwakilan ICW), Oslan Purba (Perwakilan Federasi Kontras Indonesia), Pius Ginting (perwakilan Walhi), Jabir Alfaruqi (perwakilan KP2KKN), dan dari kalangan akademisi, Yakob Adi Kristanto.

Selain pementasan teater dan diskusi, sebagai bentuk keprihatinan atas ditahannya dua pimpinan KPK non-aktif saat ini, puluhan penonton yang hadir dalam acara tersebut juga melakukan penggalangan tanda tangan pada sebuah spanduk yang telah disediakan.

This content has passed through fivefilters.org.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar